'AI Psychosis', Titik Buta Baru Para Pemimpin Perusahaan: Ketika CEO Lebih Percaya AI daripada Manusia
Fast Company menyoroti fenomena 'AI psychosis' yang menjadi titik buta baru para pemimpin bisnis yang terlalu bergantung pada jawaban AI, hingga kehilangan daya nalar kritis dalam mengambil keputusan
Dunia teknologi tengah membicarakan fenomena yang disebut 'AI psychosis' (psikosis akibat AI) dari sudut pandang baru. Artikel Fast Company menyebutnya sebagai titik buta (blind spot) terbaru para pemimpin perusahaan, setelah banyak eksekutif yang terlalu bergantung dan percaya pada jawaban AI, sampai lupa menggunakan nalar kritis atau memverifikasi informasi secara mandiri.
Perlu diklarifikasi bahwa AI psychosis bukanlah diagnosis medis, melainkan kiasan untuk menggambarkan perilaku pemimpin bisnis. Istilah ini mulai ramai dibicarakan setelah cuitan Mitchell Hashimoto, co-founder HashiCorp, dan kemudian diperluas oleh Aaron Levie, CEO Box, yang menilai para CEO justru paling rentan mengalami kondisi ini karena posisinya jauh dari 'garis depan pekerjaan' (last mile of work), sehingga mereka mengambil keputusan berdasarkan hasil AI yang tampak terlalu bagus untuk nyata.
Gejala yang diidentifikasi sebagai 'AI psychosis' di tingkat pimpinan antara lain: mempercayai saran AI lebih tinggi daripada pendapat rekan kerja atau pengalaman sendiri, tidak memverifikasi kebenaran hasil kerja yang diproduksi AI, dan mengabaikan sikap kritis karena AI kerap memberikan jawaban yang terdengar meyakinkan serta mendukung pemikiran pemimpin yang sudah ada—sehingga menciptakan efek echo chamber (ruang gema yang hanya memantulkan pemikiran diri sendiri).
Artikel tersebut menilai yang terjadi sebenarnya adalah kegagalan kepemimpinan (leadership failure), bukan masalah kesehatan mental, dan menyebut kondisi ini sebagai 'cognitive surrender' atau penyerahan nalar kepada AI.
Namun demikian, istilah AI psychosis juga digunakan dalam konteks lain di bidang psikiatri, yakni kasus di mana pengguna umum yang memiliki kerentanan psikologis dapat terpicu mengalami delusi atau keterikatan berlebihan pada AI. Ini merupakan isu yang berbeda dari penggunaan AI di sektor bisnis, meski memakai istilah yang sama.
Topik ini menjadi perdebatan hangat di Hacker News dengan 150 poin dan 90 komentar, yang menunjukkan bahwa para pekerja teknologi turut cemas soal penggunaan AI tanpa verifikasi.
Ketika perusahaan-perusahaan mulai menggunakan AI dalam pengambilan keputusan, isu ini mengingatkan bahwa alat AI tidak seharusnya menggantikan daya analisis manusia—terutama di level eksekutif, di mana keputusan yang keliru berdampak pada seluruh organisasi. Ini sekaligus mengajak kita merenungkan pentingnya memverifikasi informasi dari AI sebelum benar-benar digunakan.