Perawat Kaiser protes pengawasan AI, sebut batasi waktu bicara dengan pasien dan uji coba pengukuran 'empati' pengaruhi kualitas layanan
Perawat konsultan telepon Kaiser Permanente di California menyatakan bahwa penggunaan AI dan sistem pengawasan kerja menciptakan tekanan serta berdampak buruk pada perawatan pasien.
Sekelompok perawat yang bertugas sebagai konsultan dan penapis pasien melalui telepon di Kaiser Permanente, salah satu penyedia layanan kesehatan terbesar di AS, menyatakan kekhawatiran mendalam atas penerapan sistem AI dan pengawasan di tempat kerja. Mereka menyebut teknologi ini berdampak langsung pada kualitas perawatan pasien dan kondisi kerja mereka.
Menurut California Nurses Association, perawat ditekan oleh sistem yang memantau produktivitas dari berbagai sisi, seperti durasi percakapan dengan pasien yang jika melebihi 15 menit dapat memengaruhi evaluasi kerja. Selain itu, terdapat perangkat lunak yang mengukur kecepatan penerimaan panggilan. Bahkan, dilaporkan bahwa Kaiser sedang menguji sistem AI untuk menganalisis dan memberi skor pada 'empati' serta 'nada suara' perawat selama berinteraksi dengan pasien.
Isu penggunaan AI menjadi poin penting dalam negosiasi kontrak baru antara serikat pekerja dan Kaiser, setelah sebelumnya para perawat sempat melakukan aksi protes dan mogok kerja selama satu hari untuk menolak teknologi tersebut. Mereka berpendapat bahwa fokus pada metrik kuantitatif ini menghalangi perawat untuk meluangkan waktu yang cukup guna menilai kondisi pasien yang kompleks, yang berisiko menyebabkan kesalahan dalam perawatan.
Di sisi lain, Kaiser Permanente membantah tuduhan penggunaan 'Average Handle Time' untuk mengevaluasi kinerja perawat, dan menegaskan bahwa alat yang digunakan bertujuan untuk mendukung jaminan kualitas, di mana keputusan akhir tetap berada di tangan manusia.
Kasus ini mencerminkan konflik yang kian meningkat antara penerapan AI untuk efisiensi organisasi dan kualitas layanan yang sangat bergantung pada sentuhan manusia, terutama di sektor kesehatan di mana keputusan dapat berdampak pada nyawa pasien.