Peneliti AI ajukan konsep 'Craft Coding' lawan tren Vibe Coding, ingatkan programmer agar keahlian tidak hilang
Dosen AI ingatkan bahwa membiarkan AI menulis seluruh kode tanpa pemahaman akan membuat programmer kehilangan keahlian, serta tawarkan cara menggunakan AI sebagai 'asisten peninjau' saja.
Peter Bloem, dosen dan peneliti AI serta Ilmu Komputer, menerbitkan esai di blog pribadinya untuk mengkritik fenomena 'Vibe Coding', yang berarti mengandalkan AI untuk membuat kode dari prompt tanpa programmer benar-benar memahami kode yang dihasilkan. Ia pun menawarkan pendekatan sebaliknya yang disebut 'Craft Coding'.
Inti dari artikel tersebut adalah peringatan akan risiko penggunaan AI untuk menghasilkan kode tanpa verifikasi, yang selain menghasilkan kode berkualitas rendah, juga membuat pengembang kehilangan keahlian dan pemahaman mendalam tentang sistem.
Pendekatan Craft Coding yang ia tawarkan adalah agar programmer menulis kode sendiri secara mandiri demi menjaga keahlian dan pemahaman, dengan saran praktis yang jelas seperti: tidak menggunakan fitur AI Autocomplete di dalam IDE, selalu mengembangkan kode sendiri terlebih dahulu, dan membatasi peran AI hanya untuk membaca kode guna melakukan Review (peninjauan), membantu mencari Edge Cases (kasus batas yang dapat merusak program), serta menjelaskan logika kode.
Perlu dicatat bahwa ini adalah artikel opini dan studi, bukan peluncuran alat atau kebijakan dari organisasi tertentu. Namun, artikel ini menarik banyak perhatian di komunitas pengembang di Hacker News, dengan lebih dari 43 komentar diskusi dan 64 poin suara. Topik ini dibahas lebih lanjut mengenai 'Deskilling' atau bagaimana AI menyebabkan penurunan keahlian programmer, serta pertanyaan tentang di mana batas penggunaan AI yang 'tepat' dalam pemrograman. Media rangkuman berita teknologi seperti TheFrontPage.dev juga mengangkat perdebatan antara kedua konsep ini untuk dilaporkan.
Di saat alat AI penulisan kode sedang booming, perdebatan ini mencerminkan pertanyaan besar di industri tentang seberapa banyak programmer harus menggunakan AI tanpa kehilangan keahlian mereka sendiri, yang berkaitan langsung dengan para pengembang dan mahasiswa IT di Indonesia yang sedang berlatih atau bekerja di era ini.